in

AngryAngry CryCry CuteCute LOLLOL LoveLove OMGOMG WTFWTF

Lika -Liku Mahbub Djunaidi : Dari HMI ke PMII (Bag.1)

Mahbub Djunaidi mewakili PB HMI saat menyampaikan kata sambutan dalam sebuah acara HMI Cabang Bandung tahun 1959 (Sumber foto : Majalah Media PB HMI)

Waktu itu Minggu, 1 Oktober 1995, mentari pagi belum lagi muncul menguarkan sinarnya. Namun, di rumah yang terletak di Jalan Taman Karawitan No.1 Bandung, sudah tampak diriungi oleh para pelayat yang berdatangan untuk bertakziah atas berpulangnya kepala keluarga di rumah itu. Sebagian besar para pelayat itu adalah anak-anak geng motor de Condors. Mereka menunggu di rumah itu untuk memakamkan sosok yang akrab dan dekat dengan kehidupan anak-anak geng motor. Selepas dhuhur, jenazah itu pun kemudian dimandikan lalu disholatkan.

Seusai sholat dhuhur ditegakkan, jenazah kelahiran Jakarta 27 Juli 1933 itu kemudian dinaikkan ambulans menuju pemakaman Al-Islam di Zona Caringan Bandung, Jawa Barat. Kala itu, perjalanan dari Kliningan ke pemakaman Al-Islam bukanlah pemandangan biasa. Bagaimana tidak. Ia berpulang seperti layaknya seorang Presiden. Motor-motor yang dikendarai oleh anak-anak geng motor de Condor berada di depan, di kiri, di kanan dan belakang dari ambulans itu mengawal perjalanan sang tokoh ke peristirahatannya yang terakhir. Iring-iringan pengantar jenazah itu mengular sangat panjang.

Saat itu, lampu lalu lintas di tiap perempatan tak berfungsi hingga membuat ambulans melaju tanpa ada hambatan. Keinginannya untuk meninggal ala Presiden, akhirnya kesampaian juga. Pemakaman layaknya seorang Presiden itu tergambar dalam pemakaman sosok jurnalis, kolumnis, sastrawan, aktivis cum politisi, Mahbub Djunaidi.

Beberapa bulan sebelumnya, Mahbub Djunaidi sempat berpesan kepada anaknya, Isfandiari. Harapannya hanya satu, kelak saat ia meninggal dunia, ia ingin dimakamkan layaknya seorang Presiden.

 “Liat aja kalau Presiden meninggal, dari rumah ampe kuburnya dikawal pakai motor-motor. Tiap perempatan diberhentiin. Papa jadi VVIP sampai kuburan. Pokoknya heboh deh. Itu aja kemauan papa,”kata Mahbub sebagaimana pengakuan Isfandiari  dalam Bung : Memoar tentang Mahbub Djunaidi.

Kepergiannya, tentu meninggalkan duka yang sangat mendalam. Tak hanya bagi keluarga Mahbub dan keluarga besar PMII. Melainkan juga bagi keluarga besar HMI dan teman-teman dekatnya yang dulu pernah berproses di HMI. Di kalangan aktivis pergerakan, Mahbub Djunaidi lebih dikenal sebagai Ketua Umum PB PMII selama dua periode, periode 1960-1967. Jauh sebelumnya, Mahbub merupakan aktivis organisasi Himpunan Mahasiswa Islam. Bahkan posisinya di HMI sangatlah strategis. Mahbub menjabat sebagai Ketua Departemen Pendidikan. Sebuah posisi yang sangat strategis sekelas Ketua Bidang PB HMI saat ini.

Seperti diungkap dalam Sketsa Kehidupan dan Surat-surat Pribadi Sang Pendekar Pena Mahbub Djunaidi, tokoh Al-Irsyad sekaligus kawan dekat Mahbub, Hussein Badjerei, menuturkan bahwa ia dan Mahbub sama-sama masuk HMI dan bersama-sama pula masuk dalam lingkaran elit di PB HMI. Hussein Badjerei menjabat sebagai Ketua Departemen Penerangan, sedangkan Mahbub menjabat sebagai Ketua Departemen Pendidikan di era kepengurusan Ismail Hasan Metareum (hlm.33)

Dikarenakan posisinya yang strategis itu, Mahbub sempat juga dikirim ke Aloka oleh PB HMI. Di sana, ia berangkat untuk mengikuti training kepemimpinan bersama jajaran Pengurus Besar lainnya. Pada waktu di PB HMI itu pulalah, departemen yang dibawahi oleh Mahbub dan Hussein Badjerei mengadakan kerjasama kegiatan, Perkemahan Kerja (Work Camp) di Desa Baros, Sukabumi, Jawa Barat. Inilah cikal bakal dari Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang sering dilakukan oleh segenap mahasiswa Indonesia yang sudah menginjak tahap akhir dari perkuliahannya.

Mahbub Djunaidi di Serang, 20 April 1953 (Sumber foto : Ridwan Saidi)

Di desa Baros itulah,  gelar Buya disematkan oleh Mahbub Djunaidi kepada Ismail Hasan Metareum. Panggilan Buya kepada Ismail Hasan Metareum kemudian melekat hingga saat ia memimpin partai berasas Islam, Partai Persatuan Pembangunan.

Rangkap Jabatan Mahbub Djunaidi

Dalam hal rangkap jabatan, organisasi yang lebih dikenal dengan julukan Hijau Hitam, memang lebih ketat dibanding organisasi kemahasiswaan lainnya. Termasuk juga saat Mahbub diangkat sebagai Ketua Umum PB PMII di tahun 1960-an. Mahbub masih duduk di PB HMI sebagai pejabat teras saat ia diangkat menjadi Ketua Umum PB PMII.

Atas hal tersebut, Hussein Badjerei pernah menegur Mahbub terkait ketentuan disiplin organisasi HMI yang tidak memperbolehkan pejabat terasnya merangkap pimpinan organisasi lain. Alih-alih diperdulikan, Mahbub malah mengelak dengan alasan, “gue kan nggak hadir di Kongres Surabaya!,”jawabnya lugas dan enteng pada Hussein Badjerei.

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia memang lahir dan dibentuk melalui forum Musyawarah Mahasiswa NU yang diadakan di Gedung Madrasah Muallimin Nahdlatul ‘Ulama (Gedung Yayasan Khadijah) di Wonokromo, Surabaya, Jawa Timur pada 14-16 April 1960. Hasil Musyawarah itu kemudian diumumkan di Balai Pemuda, pada 17 April 1960 bertepatan dengan tanggal 21 Syawal 1379 Hijriyah. Sejak saat itulah, 17 April 1960 kemudian menjadi tonggak sebagai hari jadi PMII.

Berdirinya PMII ini merupakan buah dari pembentukan intelegensia NU yang dimulai sejak tahun 1950-an. Di saat itu, di tahun-tahun 50-an,  sebagaimana dituturkan oleh Yudi Latif dalam Intelegensia Muslim dan Kuasa : Genealogi Intelegensia Muslim Indonesia Abad ke-20, intelegensia muslim reformis-modernis telah menjadi bagian dari elite politik yang berkuasa, sedangkan intelegensia muslim-tradisionalis baru mulai masuk di perguruan tinggi dan universitas (hlm.431).

Rudolf Mrazek, sebagaimana dikutip oleh Yudi Latif dalam buku yang sama, menggambarkan dengan bagus ikhwal kelangkaan intelegensia muslim-tradisionalis yang berpendidikan tinggi. Saat itu, di tahun 1955, menjelang pemilu pertama pasca kemerdekaan, Ketua Partai Sosialis Indonesia, Sutan Sjahrir, mengatakan kepada seorang sosialis Belanda, Salomon Tas, bahwa seorang pemimpin NU telah mendatangi Sjahrir untuk meminta bantuan menempatkan beberapa intelektual dari kelompoknya untuk membantu NU yang secara praktis tidak memiliki kader.

“Namun, aku tak bisa membantunya. Orang-orangku merasa sangat bosan sekali jika berhadapan dengan orang-orang semacam itu,”kata Sjahrir.

Kembali pada pembahasan Mahbub Djunaidi tadi. Seperti tak kenal lelah dan putus asa. Hussein Badjerei kembali menekan dan meneror Mahbub Djunaidi untuk segera mengundurkan diri dari PB HMI. Mahbub malah menjawab dengan sangat diplomatis : “PMII tidak melarang pimpinan terasnya merangkap pimpinan organisasi lain!”,jawab Mahbub.

Tak berhenti di sana saja teror yang dilakukan oleh Hussein Badjerei. Dalam sebuah rapat harian, ia mengusulkan agar Mahbub dipecat saja, yang kemudian dijawab oleh Buya Ismail Hasan Metareum sambil ketawa, “entee….nih!”.

Penting untuk diketahui di sini, teror yang dilakukan oleh Hussein Badjerei kepada Mahbub Djunaidi itu dilakukan sebagai bumbu persahabatan dikarenakan kedekatan mereka yang sangat erat sekali. Semua Pengurus Besar HMI kala itu sangat mafhum, betapa akrabnya Mahbub dan Hussein Badjerei. Meski berbeda latar belakang organisasi keagamaan di antara kedua orang itu, Mahbub berlatar belakang NU, sedangkan Hussein Badjerei berlatarbelakang Al-Irsyad, sebuah organisasi yang bertolak belakang pemahaman keagamaan dengan NU.

Uniknya, di HMI keduanya tetap bisa bercanda, guyon, dan tetap guyub. Bahkan persahabatan di antara keduanya terus terjalin hingga akhir hidupnya. Sampai akhir periode Hasan Metareum, persoalan Mahbub yang merangkap jabatan dibiarkan mengambang hingga masa bakti kepengurusan berakhir (bersambung).

What do you think?

1 point
Upvote Downvote

Written by historiahmi

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Konflik tak Kunjung Usai, HMI Payakumbuh Sarankan Rekonsiliasi

Obati Kasus Ratu Sejagad, Kader HMI Lolos Audisi LIDA 2020