in

Mar’ie Muhammad, Mr.Clean dari Rahim HMI (Bag.1)

Mar'ie Muhammad dan Fuad Bawazier saat memberikan keterangan pada media (Sumber foto : kompas.com)

“Alhamdulillah airnya datang juga. Kalau saya minta tambah air, jangan dianggap serakah lho,”ujar pria berkacamata itu dari atas podium saat menyampaikan orasi ilmiahnya pada Dies Natalis ke-49 Himpunan Mahasiswa Islam, di Gedung Deparpostel Jakarta, 5 Februari 1996. Sebelumnya, ia memang sempat meminta tambahan air, karena air di gelas yang ada di sebelahnya telah tandas tak tersisa.

 Saat itu, ruangan yang menjadi lokasi acara sangatlah panas dan membuat gerah karena tidak berfungsinya alat pendingin ruangan.  Sembari meneguk air putih, pria itu memperhatikan seisi ruangan. Tak lama berselang, ia melanjutkan kembali uraiannya yang berjudul “HMI-Perubahan- Globalisasi, Pikiran dan Renungan Generasi Muda”.

Dalam orasi ilmiah yang disampaikannya di hadapan seribu alumni HMI itu, pria berkacamata itu melontarkan pikiran-pikiran segar agar kader HMI, sebagai generasi muda bangsa ini, selalu bersikap terbuka, tidak ekslusif, serta tidak mengambil sikap apriori terhadap semua pemikiran, pandangan, dan gagasan dari manapun datangnya.

“Mengejar kemajuan dengan ilmu saja tidaklah cukup. Jangan sampai kaum muda Islam terjebak dalam kondisi seperti yang dialami masyarakat Barat, yakni sebuah affluent society (masyarakat berkelimpahan) yang melahirkan sikap hidup hedonis,”ujarnya mengingatkan.

Meskipun sama-sama berkacamata, dia bukanlah Nurcholish Madjid, cendekiawan sekaligus mantan Ketua Umum PB HMI itu. Namanya Mar’ie Muhammad. Ia kelahiran kampung Ampel Surabaya, 3 April 1939. Ia dijuluki ayam kampung karena lahir bukan dari keturunan bangsawan dan bukan berasal dari keluarga berada. Jabatan terakhirnya di PB HMI adalah sebagai Sekretaris Jenderal di masa Sulastomo menjabat sebagai Ketua Umum.

Sebelum Sulastomo dan Mar’ie Muhammad menjadi Ketua Umum dan Sekjen PB HMI, keduanya juga sudah berduet saat menjadi pengurus HMI Cabang Jakarta sebagai Ketua Umum dan Sekretaris Umum. Tak hanya itu, bahkan keduanya menjadi Ketua dan Sekretaris Panitia Kongres ke VII HMI seperti diungkap oleh AM.Fatwa dalam buku Membingkai Perkaderan Intelektual : Setengah Abad HMI Cabang Ciputat.

Dalam buku tersebut, AM.Fatwa juga menuturkan, bahwa kongres ke – VII HMI saat itu diadakan pada 8-16 September 1963 bertempat di Aula Masjid Agung Al-Azhar Jakarta. Dan baru kali itu, terjadi suatu kongres mahasiswa, di mana para pesertanya ditempatkan di tenda-tenda yang didirikan memenuhi sekeliling area masjid. Waktu itu, belum ada bangunan-bangunan sekolah dan kampus universitas seperti sekarang.

“Saat kongres HMI, kami berkemah di sini dan merasa seperti sedang berada di Mina”kenang AM.Fatwa

Kongres ke-7 HMI tersebut diselenggarakan di tengah suasana dan posisi HMI yang sangat kritis. Hal ini terutama karena adanya desakan pembubaran HMI dari berbagai pihak, khususnya dari Central Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) dan beberapa pejabat negara yang berhaluan kekiri-kirian.

Pada kongres ke-7 itulah terpilih Sulastomo dan Mar’ie Muhammad sebagai Ketua Umum dan Sekjen PB HMI. Terpilihnya keduanya, selain karena telah mempersiapkan diri dengan matang, juga karena kondisi politik yang tidak memungkinkan munculnya figur lain di luar keduanya.

Salah satu penampilan awal PB HMI pimpinan Sulastomo dan Mar’ie Muhammad adalah saat PB HMI beramai-ramai datang ke istana Bogor mengalungkan “Gordon dan Muts HMI” kepada Bung Karno dan ibu Hartini. Saat itu, sebagaimana dikatakan AM.Fatwa, semacam ada arus balik dari periode kepemimpinan PB HMI. Sulastomo dan Mar’ie seperti tidak ingin memilih orang-orang yang duduk di kepengurusan PB HMI saat itu, dominan diwarnai oleh kader-kader HMI asal PII, sebagaimana kepengurusan PB HMI di bawah Oman Komaruddin.

Penggerak di Belakang Layar Gerakan KAMI

Di tahun 1964 – 1966an, dengan jaket kuningnya, Mar’ie berorasi dari mimbar ke mimbar berjuang atas nama Ampera. Namanya memang masuk dalam lingkaran elit aktivis mahasiswa di tahun-tahun terjadinya gempa politik di tahun itu.

Tengoklah pada daftar nama-nama Dewan redaksi Harian KAMI. Di sana, di koran yang mengusung slogan Demi Keadilan, Kebenaran dan Kesatuan Aksi itu, namanya menyempil di belakang nama beken lainnya. Nama Mar’ie Muhammad terpahat berada di baris paling bawah. Seakan-akan malu menampilkan perannya dalam gerakan mahasiswa saat itu.

Sikap tak suka menonjolkan diri Mar’ie Muhammad ini juga diungkap oleh Nurcholish Madjid dalam otobiografinya yang berjudul Demi Islam Demi Indonesia. Dalam buku tersebut, Cak Nur menulis demikian :

“Mula-mula kita menginginkan agar yang menjadi Ketua MMI adalah Hasan Ray, orang HMI juga. Tetapi karena dia sakit-sakitan, akhirnya kita mengajukan Zamroni sebagai Ketua MMI. Ia dari IAIN, juga PMII Cabang Ciputat. Termasuk saya mendukung skema itu, karena itu sudah merupakan policy PB HMI. Karena kalau HMI yang maju, maka ia akan easytouched, mudah menjadi sasaran serangan PKI. Efeknya adalah ketika KAMI, kita kembali mengajukan Zamroni. Dia welprotected karena dilindungi NU. Waktu itu, NU menjadi anggota Nasakom. Lalu kita masih harus melapisi lagi dengan Cosmas Batubara, dari unsur Katolik. Karena partai Katolik juga anggota Nasakom. Jadi itu adalah strategi PB HMI sendiri untuk tidak maju sebagai ketua KAMI. Dalam konteks ini, Mar’ie itu tahu diri betul. Dia tidak mau tampil ke muka, tapi perannya dari belakang layar besar sekali” (hlm.56)

Ridwan Saidi, mantan Ketua Umum PB HMI, juga memiliki penilaian yang senada dengan Cak Nur dalam menilai sikap Mar’ie Muhammad yang tak suka tampil di muka publik. Dalam sebuah opininya di koran Media Indonesia, Sabtu 30 April 1994, Ridwan Saidi menggambarkan bagaimana Mar’ie Muhammad di suatu hari pada bulan Oktober 1965, mencari Zamroni ke sana-kemari dalam rangka proses pembentukan Presidium Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI).

Waktu itu, ada dua organisasi kemahasiswaan yang menghimpun organisasi intra kampus dan ekstra kampus.  Untuk organisasi intra kampus bernama Majelis Mahasiswa Indonesia (MMI), semacam BEMNUS dan BEMSI saat ini. Sedangkan wadah untuk organisasi ekstra kampus, semuanya bernaung di Persatuan Perhimpunan Mahasiswa Indonesia (PPMI), semacam Kelompok Cipayung saat ini.

Di kedua organisasi tersebut, peran HMI dikikis habis oleh CGMI. Bahkan, HMI ditendang keluar dari PPMI sehingga perannya tak ada lagi. Lewat kedua wadah organisasi kemahasiswaan tersebut, CGMI terus menerus meneror Soekarno untuk membubarkan HMI. Bagi CGMI, HMI adalah kekuatan kontra revolusioner dan anti Manipol Usdek. Maka, demi lancarnya jalan revolusi, HMI harus dibubarkan. Begitulah harapan dari organisasi underbouw PKI itu.

Namun, HMI yang menjadi target pengganyangan dari CGMI dan PKI, tak begitu saja bisa ditundukkan. Sebagai aktor utama dari HMI yang aktif di dalam KAMI, Mar’ie Muhammad terus bergerak dalam senyap untuk mengawal dan menjaga HMI agar tak dibubarkan oleh pemerintah saat itu.

Tahun 1964 hingga 1966 adalah masa-masa kritis bagi HMI. Suara-suara pembubaran HMI menggema di daerah-daerah. Dimulai dari Jember, Jakarta, Yogyakarta kemudian daerah lainnya. Kuatir dengan semakin kencangnya suara-suara yang menuntut pembubaran HMI, di bulan Juni 1964, Mar’ie Muhammad bersama Munajat Aminarto (PJ Ketua Umum saat itu), datang bertamu ke rumah Dahlan Ranuwihardjo di jalan Sumatera 25 Menteng, Jakarta.

Kepada Dahlan, keduanya menceritakan peristiwa pengganyangan HMI oleh Utrecht di Jember dan berharap pada Dahlan agar dapat menanggulangi aksi-aksi pengganyangan terhadap HMI saat itu.

Dari pertemuan itulah kemudian, pada langkah-langkah selanjutnya, PB HMI membentuk Dewan Pertimbangan dan Penasehat yang anggotanya terdiri dari Dahlan Ranuwihardjo, Ahmad Tirtosudiro, Sanusi, dan Ismail Rahardjo. Pembentukan DPP PB HMI ini merupakan bentuk nyata pelaksanaan instruksi Presiden nomor 8/1964 yang berisi instruksi agar menertibkan dan membersihkan HMI dari unsur-unsur yang menghambat jalannya revolusi serta agar HMI menjadi alat revolusi yang progresif revolusioner.

Lewat DPP PB HMI dan gerakan Mar’ie Muhammad di dalam tubuh KAMI, HMI bersama kekuatan rakyat lainnya berhasil melipat dan menggulung PKI beserta CGMI. Setelah sebelumnya, di tanggal 29 September 1965, bertempat di Istora Senayan Jakarta, dalam acara Resepsi Penutupan Kongres CGMI yang dihadiri 25 ribu  massa CGMI, Sekjen CC PKI DN.Aidit, dengan bersuara lantang, sombong dan congkak berkata, “Jika kalian tidak mampu membubarkan HMI, lebih baik kalian memakai sarung saja”. (*)

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Written by historiahmi

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Sigit Pamungkas Terpilih Sebagai Koorpres MN KAHMI

Selamat Datang New Normal