in

LoveLove

Mengenal Duet Sulastomo dan Mar’ie Muhammad

Oleh: Nazar Nasution

Tahun 1963. Saya baru setahun masuk anggota HMI Cabang Jakarta. Berawal Di tahun 1962 sebagai Sekretaris HMI Komisariat Fakultas Hukum UI. Ketua Komisariat saat itu adalah Umar Husein. Sedangkan kolega sesama aktivis adalah Harun Kamil (Notaris) dan Fathi Sukayat (Depkeu).

Kongres VII HMI tahun 1963 dilaksanakan di Masjid Agung Al Azhar, dan saya cukup bangga sudah bertugas sebagai Panitia Kongres bersama Effendy Muchtar (sempat bertugas sebagai Marinir/KKO).

Pada Kongres inilah Sulastomo terpilih sebagai Ketua Umum PB HMI, dengan Mar’ie Muhammad sebagai Sekjen. Tahun 1963-1966 adalah tahun-tahun penuh tantangan bagi HMI, dan duet Sulastomo-Mar’ie merupakan pasangan yang cocok menghadapi situasi rawan tersebut.

Diawali tahun 1963 oleh peristiwa Utrecht (Jember), pelarangan terhadap HMI yang dikeluarkan oleh Prof. Utrecht di lingkungan Universitas Jember, Jawa Timur. Secara beruntun dilancarkan kampanye oleh PKI berikut organisasi yang berada di bawah naungan (onderbouw) nya, seperti Pemuda Rakyat dan CGMI.

Pada masa Sulastomo inilah HMI berhadapan secara frontal dengan CGMI, baik di lingkungan organisasi ekstra (PPMI) maupun organisasi intra (MMI). CGMI berusaha menggunakan PPMI untuk membubarkan HMI, bekerjasama dengan GMNI, onderbouw PNI Asu (Ali Surachman), Germindo (onderbouw PARTINDO) dan Perhimi.

Kelompok ini berusaha keras untuk mengeluarkan HMI dari lingkungan PPMI. Demikian pula berusaha menghalangi agar HMI ataupun aktivis HMI tidak terpilih sebagai Ketua Dewan Mahasiswa di lingkungan MMI. Kata “Ganyang HMI” mulai dipopulerkan dalam upaya kelompok tersebut membubarkan HMI. Selain mereka berusaha secara gigih melalui forum resmi seperti Kongres PPMI, juga melalui Kongres MMI di Malino (1964), maupun acara-acara perkenalan mahasiswa di berbagai kampus.

Sebagai contoh, insiden pada Mapram UI (1965), di mana Basirun Nugroho (penceramah) yg sempat menyampaikan pidato mengganyang HMI telah dihentikan oleh aktivis HMI, Fahmi Idris.

Mereka juga berusaha merebut opini publik dengan coretan-coretan di berbagai tembok kota dengan tulisan “Bubarkan HMI”. Pimpinan/ aktivis HMI secara spontan menumpas operasi tengah malam mereka itu dengan operasi menjelang fajar di berbagai medan/lapangan.

Pada masa Sulastomo-Mar’ie ini, yang perlu dicatat adalah sikap spontan dari aktivis HMI berikut ini : Firdaus Wadjdi (Jakarta), Adisasono (Bandung), Tawangalun (Yogya), Zakaria Siregar (Medan), Jusuf Kalla (Makassar).

Mereka menggerakkan aktivis HMI untuk merubah kata “Bubarkan” itu menjadi “Kobarkan” dengan mengganti dua huruf “Bu” menjadi “Ko”. Maka gagallah upaya mereka untuk merebut opini publik.

Pada saat bersamaan, dengan menyadari bahwa HMI adalah milik umat Islam, Sulastomo – Mar’ie mendekati Pemuda Ansor yang dipimpin oleh Jusuf Hasyim. Maka generasi muda Islam menggerakkan aksi massa dengan semboyan yang terkenal “Langkahi mayatku sebelum Bubarkan HMI”.

Duet Sulastomo-Mar’ie menyusun strategi melumpuhkan PPMI dengan melakukan pendekatan kepada Syarif Thayeb, saat itu Menteri Pendidikan Tinggi. Maka muncullah gagasan pembentukan KAMI, yang diprakarsai oleh HMI, PMKRI dan beberapa organisasi lokal (IMADA, PMB dll).

Saat itu saya dipercayakan sebagai Sekjen Presidium KAMI Pusat mendampingi Cosmas Batubara sebagai Ketua Presidiumnya. Munculnya KAMI, mengakibatkan PPMI bubar.

Pendekatan juga dilakukan oleh Sulastomo-Mar’ie ke dalam lingkaran dekat Sukarno, yaitu Menteri Agama, Saifuddin Zuhri. Sehingga Bung Karno mengurungkan pemikiran untuk membubarkan HMI, begitu Saifuddin Zuhri menegaskan lebih baik baginya mengundurkan diri, apabila HMI dibubarkan.

Upaya untuk membubarkan HMI mencapai puncak nya pada Kongres PKI (29 September 1965), sehari sebelum peristiwa G30S/PKI. Saat itu Ketua CC PKI, D. N. Aidit menantang CGMI dan Pemuda Rakyat, “apabila tidak bisa membubarkan HMI, lebih baik kalian pakai sarung saja”.

Sulastomo sebagai Ketua Umum PB HMI memang sempat bertugas (pertengahan 1965) sebagai dokter sukarelawan di perbatasan RI-Malaysia saat konfrontasi dengan Malaysia, sehingga Munadjat Aminarto bertindak sebagai Pejabat Ketua Umum, namun Mar’ie tetap sebagai Sekjen.

Terbentuknya Front Pancasila yang diprakarsai oleh Harry Tjan Silalahi (Partai Katolik) dan Subchan ZE (NU), dengan dukungan sepenuhnya dari KAMI dan berbagai Kesatuan Aksi lain pada akhirnya berhasil membubarkan PKI pada 11 Maret 1966. Inilah kisah panjang yang terjadi pada masa Sulastomo-Mar’ie, bukan HMI yang dibubarkan, tetapi justru rakyat berhasil membubarkan PKI.

*Penulis adalah mantan Sekjen PB HMI.

What do you think?

-1 points
Upvote Downvote

Written by historiahmi

Comments

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Mengenang Saleh Khalid (Melengkapi Tulisan Harry Azhar Azis dan Abidinsyah Siregar)

Membongkar Politik Seksual Rezim Neofasisme Orde Baru