in

Gambar Anom

Akbar Tandjung saat menabur bunga di atas pusara Gambar Anom, Kamis, 27 Agustus 2020.

Oleh : Harry Azhar Azis*

Saya tidak begitu mengenal dekat mas Gambar Anom. Tapi kepergiannya pada 27 Agustus 2020 kemarin, tetap membuat saya tersentak. Seolah tidak percaya atas berita itu. Orang yang begitu lembut dan murah senyum kok bisa meninggalkan kita.

Ketika saya menjadi Ketua Umum PB HMI 1983-1986, ada beberapa kali ketemu dengan Mas Gambar Anom. Tidak seperti terhadap beberapa senior alumni HMI yang kalau ketemu saya atau teman-teman Pengurus Besar HMI lainnya selalu keluar kata-kata nasehat atau ada saja yang masih suka memberi “perintah”.

Dengan Mas Gambar saya tidak pernah merasakan itu. Orangnya betul-betul “low profile,” bersahaja. Paling jauh tanya, “apa kabar Har” atau “ selamat ya Har sudah jadi Doktor” ketika saya baru pulang sekolah dari Amerika Serikat di tahun 2000 lengkap dengan wajah senyumnya yang selalu membuat saya terkesan.

Di antara para alumni, posisi mas Gambar dengan jelas selalu terlihat cerah dan biasa-biasa. Tetapi tegas dengan posturnya tersendiri. Yang saya ketahui, mas Gambar adalah tipe tokoh HMI yang sangat sederhana. Padahal beliau pernah menjadi Sekjen PB HMI periode 1971-1974 ketika Ketua Umumnya Akbar Tandjung.

Saya bahkan hampir tidak percaya ada seorang seperti Gambar Anom bisa menjadi tokoh penting di HMI. Yang saya alami mereka yang beraktivitas dan menonjol menjadi tokoh di HMI rata-rata adalah mereka yang selalu sibuk dan betah berkata-kata, lebih banyak berkata-kata daripada mendengar kata-kata.Rasanya tidak ada yang lebih hebat di HMI bila kita bisa membuat lawan bicara kita berhenti berkata-kata. Atau terbata-bata dalam berdiskusi.

Mas Gambar dalam berbicara tidak ada kesan “mengurui”, atau “menasihati”. Padahal sebagai seorang senior, rasanya tidak masalah bila dia bersikap seperti itu. Karena rata-rata senior itu tentu ragam pengalamannya lebih banyak. Tapi itu sama sekali tidak tampak pada pribadi Mas Gambar.

Persepsi yang saya peroleh ketika berdiskusi dengan mas Gambar justru sering mengedepankan pendekatan “kita” daripada “aku”nya. Tidak pernah membuat jarak antara “kami” atau “kamu”. Semuanya mengalir seperti air sungai yang turun dari gunung. Karena semua isi diskusi dimulai dengan ramah dan ditutup dengan senyum.

Itulah Mas Gambar Anom yang saya kenal. Perjumpaan kita rasanya terlalu pendek Mas, walau mas Gambar 11 tahun lebih tua dari saya. Saya rasanya belum penuh menerima “air gunung” yang mengalir darimu, Mas Gambar telah pergi. Pergilah dengan senyum menemui Tuhan. Saya yakin Tuhan pasti menyambutmu dengan senyum pula.

Depok, 27 Agustus 2020

*Penulis adalah Ketua Umum PB HMI 1983-1986

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Written by historiahmi

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

In Memoriam Mas Gambar Anom

Jalan Sepi Bapak Gambar Anom : Catatan Seorang Menantu