in

In Memoriam Bang Abdul Gafur, Angkatan 66 yang Jago Bicara

Poster MN KAHMI yang berisi ucapan turut berduka ciata atas wafatnya Abdul Gafur (Mantan Menpora era Presiden Soeharto)

Oleh : Muhriji Fauzi

Kepergian Bang Abdul Gafur ke tempat peristirahatan terakhir untuk selamanya, Jumat (4/9) pagi 06.10 WIB, telah membuat kita kehilangan seorang alumni HMI dan Angkatan ’66 yang pandai bicara, orator yang bersuara lantang.

“Saudara-saudara! dulu waktu kita pada masa penjajahan, Indonesia sebelum merdeka, kita sering mendengar desingan dan deru-deru suara peluru senjata kolonial. Sekarang, kita sudah merdeka yang terdengar adalah deru-deru pembangunan untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur, Baldatun Thoyibatun wa Robun Gafur!”

Demikianlah petikan pidato sambutan Menteri Negara Pemuda dan Olah Raga (Menpora) era Kabinet Presiden Soeharto Dr. H. Abdul Gafur di hadapan sekitar seribu Mahasiswa IAIN (UIN) Jakarta (1984) yang diundang oleh BPKM, dulu bernama Dewan Mahasiswa (DEMA) yang kemudian dibubarkan oleh Menteri P dan K Dr.Daoed Joesoef.

“Saudara-saudara mahasiswa, kita sekarang di era orde baru hanya mendengar deru-deru pembangunan untuk mewujudkan masyarakat adil makmur, Baldatun Thoyibatun wa Robbun Gofur,” tegas Menpora Abdul Gafur yang mengulangi pidatonya dan disambut meriah mahasiswa.

“Karena itu, Saudara-saudara! berbahagialah bagi orang yang punya nama seperti Abdul Gafur,” ujarnya yang kembali disambut tepuk tangan dan tawa mahasiswa. Penulis yang saat itu sebagai Ketua Umum BPKM/Dema di Kampus tersebut, mendampingi Menpora Abdul Gafur, juga memberikan tepuk tangan.

Pada suatu hari, penulis diberitahu Cak Nur, Nurcholish Masjid, dalam sejarah, di Kongres HMI Solo, Bang Gafur dikenal sebagai seorang pembaca ayat-ayat suci Al-Quran, Qori, suaranya lantang dan merdu. Di Kongres HMI Solo ini pula terpilih Cak Nur ( Nurcholish Madjid ) sebagai Ketua Umum PB HMI menggantikan Mas Tom (Dr. Sulastomo).

Penulis sendiri mulai mendengar dan mengenal Bang Abdul Gafur tahun 1978, ketika gerakan mahasiswa Indonesia mulai memanas yang menimbulkan pro kontra atas rencana DPR-RI akan menggelar Sidang Paripurna untuk membahas hak interpelasi Syafi’i Sulaiman yang diajukan Fraksi PPP didukung PDI kepada Menteri P dan K tentang penolakan pembubaran Dema dan Pemberlakuan konsep
NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kegiatan) mahasiswa.

Intinya, mahasiswa mendukung hak interpelasi tersebut yang menilai pembekuan Dema dan Pemberlakuan konsep NKK/BKK hanya akan membuat mahasiswa menjadi tidak lagi kritis, cerdas kreatif serta terasing dari kehidupan masyarakat.

Penulis bersama 20 mahasiswa Ciputat ikut aksi demo ke DPR dalam rombongan yang dipimpin oleh Azyumardi Azra (kini Prof Dr) untuk bergabung dengan mahasiswa lain seJabotabek sambil membacakan “Petisi” penolakan atas Pemberlakuan NKK/BKK dan pembubaran Dewan Mahasiswa.

Sementara di lain pihak, juga terjadi aksi massa yang dilakukan elemen KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia) untuk menerima konsep NKK/BKK. Jadi di pelataran gedung DPR terdapat kumpulan massa yang pro kontra dalam menyikapi Hak Interpelasi.

Profil Abdul Gafur dalam Majalah Media Sidang Umum MPR RI, 1-11 Maret 1998

Di dalam gedung DPR-RI sendiri tengah berlangsung penyampaian pandangan/pendapat masing-masing fraksi. Hal yang jelas, fraksi ABRI (TNI) juru bicaranya adalah Abdul Gafur (aktivis HMI) dan Fraksi Golkar dengan juru bicara Akbar Tandjung (aktivis HMI) yang intinya mendukung kebijakan pemerintah tentang pembubaran DEMA dan Pemberlakuan konsep NKK/BKK. Sedangkan fraksi PPP dengan juru bicara Ridwan Saidi (aktivis HMI) dan fraksi PDI juru bicara Fatimah Ahmad berpendapat sebaliknya.

“Pertarungan” juru bicara Abdul Gafur, Akbar Tanjung dan Ridwan Saidi telah dikutip sejumlah media massa ibukota dengan judul, “Tiga Tokoh HMI berdebat di DPR”. Demikian bunyi harian TERBIT. Begitu juga harian MERDEKA, dengan judul, “Aktivis HMI Bertarung di DPR”.

Hak interpelasi Syafi’i Sulaiman gagal dalam menyampaikan dan memperjuangkan aspirasi mahasiswa. Tak lama setelah itu, dalam pelantikan Kabinet Baru nama Abdul Gafur masuk dalam jajaran menteri sebagai Menteri Muda Urusan Pemuda masuk dalam struktur kementerian/Departemen P dan K.

Beberapa tahun kemudian dalam Kabinet Pembangunan III, kementerian Pemuda dan Olahraga berdiri tersendiri, terpisah dari struktur Departemen P dan K, dengan nama Menpora (Menteri Negara Pemuda dan Olahraga) dan Abdul Gafur — karena prestasinya membanggakan Pak Harto–terpilih kembali sebagai menterinya.

Pasca Menpora

Dalam Kabinet IV, terjadilah rotasi jabatan menarik, Bang Abdul Gafur tidak lagi menjadi Menpora. Jabatan Menpora diganti oleh Bang Ir. Akbar Tandjung yang saat itu sedang menjabat sebagai Pemimpin Umum Harian PELITA, sedangkan Abdul Gafur menggantikan Akbar Tandjung sebagai Pemimpin Umum Harian PELITA. Pergantian ini konon atas instruksi tidak tertulis Presiden Soeharto melalui Menteri Sekretaris Negara( Mensesneg) Sudharmono.

Sementara mantan Ketua Umum PB HMI Dr Sulastomo yang semula menjabat Pemimpin Umum Harian PELITA sebelum Akbar Tandjung bergeser menjadi Pemimpin Umum Perusahaan/Direktur PT Pelita Persatuan.

Sedangkan penulis dalam harian PELITA, baik dalam kepemimpinan Bang Akbar maupun Bang Abdul Gafur tetap dipercaya sebagai Redaktur Opini yang menggawangi Rubrik Artikel.

Salah satu hal yang unik dan menarik di sini, Bang Abdul Gafur dalam kapasitas sebagai Pemimpin umum mengeluarkan kebijakan kepada seluruh jajaran pimpinan, karyawan dan wartawan agar setiap hari Senin pagi melakukan apel bersama menaikan dan menurunkan Bendera Merah Putih dengan komandan upacara langsung Bang Abdul Gafur sebagaimana kebiasaan di kantor Menpora.

Terus terang kebiasaan apel/ upacara semacam itu cukup unik, karena tidak terbiasa dilakukan oleh organisasi media massa manapun, kecuali TVRI yang memang sebagai BUMN.

Sejak masa Mas Tom Sulastomo, Bang Akbar Tandjung, dan Bang Abdul Gafur dalam harian ini banyak bergabung alumni muda HMI, sebut saja Antoni Zaidra Abidin, Wikrama Abidin, Syamsudin Ch Haesi, Zulvan Lindan, Suparwan Parakesit dan yang lainnya.

Bang Abdul Gafur pasca Menpora tetap bergairah dan bersemangat, Dia sebagai Pemimpin Umum hampir Harian Prlita, setiap hari datang memimpin rapat dan memberikan arahan kebijakan yang terkait organisasi redaksi.

Pada suatu waktu, Bang Abdul Gafur pernah meminta kepada penulis untuk menjadi asisten pribadi yang diharapkan dapat meringankan beban tugas yang diembannya.

Perjalanan bersama Bang Gafur dari Jakarta, Menado dan Ternate cukup menarik, penulis dalam pesawat menggunakan kesempatan ini untuk berterus terang mengenalkan diri. “Bang, saya dulu peserta Kongres 16 HMI di Padang utusan Cabang Ciputat”, kata penulis yang dijawab Bang Gafur, “oh iya saya ingat kamu dulu yang ngundang saya ke kampus”.

Dalam perjalanan Menado ke Ternate, penulis kembali bertanya, “Bang waktu itu HMI tidak ada masalah dengan Pancasila karena nilai-nilai Pancasila sudah terurai lengkap dalam pembukaan AD/ART, mengapa HMI harus dipaksa menerima asas tunggal Pancasila,”

Bang Gafur sebagai Menpora saat itu mengaku diperintah Pak Harto agar HMI menetapkan Pancasila sebagai asas tunggal organisasi. “Presiden Soeharto sangat perhatian dan peduli dengan HMI, karena sejumlah alumni HMI pada awalnya banyak ikut bersama Pak Harto membangun Orde Baru, walaupun Pak Harto juga tahu alumni HMI juga ada yang mengambil posisi kritis dan oposan,” ujar Bang Abdul Gafur.

“Selain itu, Pak Harto cinta, sayang dan ingin selamatkan HMI,” kata Bang Gafur menjelaskan lebih lanjut bahwa HMI adalah aset bangsa. Menurut Bang Gafur, Pak Harto tahu persis saat HMI pada masa Orde Lama yang mengalami banyak rintangan bahkan ancaman pembubaran yang gulirkan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI). Jadi antara Pak Harto dan HMI itu sama-sama anti komunis dan sama-sama membangun Orde Baru.

Selama perjalanan tugas ke Bandar Lampung, Banda Aceh, Malang Jawa Timur, dan daerah lainnya, penulis luangkan waktu untuk banyak bertanya dan mendengar banyak hal isu kepemudaan, keislaman dan keIndonesiaan.

Bang Abdul Gafur sendiri sudah menganggap hubungan harmonis yang selalu harus dijaga antara senior dengan juniornya. Setiap kunjungan ke daerah, penulis selalu menyaksikan ceramah dan pidato Bang Gafur dengan semangat dan penuh retorika.

Hal ini mengingatkan penulis kepada seorang alumni HMI lain yang mirip gaya bicaranya dengan Bang Abdul Gafur, yaitu almarhum Bang Eky Syachrudin yang kita kenal sebagai jawara yang pandai bicara dan menguasai forum. Kedua tokoh ini sama-sama orator, sama-sama mampu merumuskan gagasan dan ide dalam bentuk tulisan. Karena itu, walaupun mereka berdua telah meninggalkan alam fana, namun pemikiran dan idenya tetap hidup. Semoga Allah SWT menerima amal kebaikan mereka. Al-Fatihah.

*Penulis adalah Alumni Dipo 16 Sekjen PB HMI Periode 1986-1987.

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Written by historiahmi

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Bang Gafur, HMI dan Asas Tunggal Pancasila

Cabang Harus Jadi Solusi Problematika HMI