in

CuteCute LoveLove

Cabang Harus Jadi Solusi Problematika HMI

Alan Anamami (Sumber Foto Facebook Alan Anamami)

Oleh : Alan Ananami*

Kanda dan yundaku di Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB-HMI), siapakah di antara kita yang mati gairah mengurus dan merawat Himpunan? Jangan-jangan jabatan Pengurus Besar bermakna nafsu politik yang besar, mulut besar, dan perut besar, sementara mata hati dan pikiran kanda dan yunda ialah sekecil-kecilnya penglihatan. Bagaimana bisa melihat masa depan organisasi jika hati telah dibutakan oleh kekuasaan? Dan pikiran selalu dibayangi oleh naluri pragmatis? Kemudian dengan sendirinya membentuk tindak-tanduk yang menyimpang dari semangat atau cita HMI.

Sebagaimana kita tahu bahwa wabah Pandemi Covid-19 membawa kehampaan hidup, di mana semua seakan menghadapi ketidakpastian. Semua mengakui itu. Namun, bukan berarti PB-HMI ikut berlarut-larut dalam ketidakpastian ini. Sehingga melupakan fungsi dan perannya sebagai organisasi kader dan perjuangan. Melupakan missionnya yang teramat mulia itu. Melupakan pandangan hidupnya (Nilai Dasar Perjuangan). Melupakan semua kewajibannya untuk mengharumkan nama Himpunan dan hanya mengingat oportunis pribadinya.

Ah, jauh sebelum datangnya Covid-19, PB-HMI memang tidak pernah jelas pekerjaannya. Apalagi sekarang! PB-HMI sejak beralih kepemimpinan dibawah Pj. Ketua Umum, dari hal yang paling kecil saja tidak pernah dilakukan, yaitu Rapat Harian Pengurus. Mungkin rapat loby-lobyan dengan alumni sering ya, walau tipis-tipis. Bagaimana ingin bicara ide besar mempersiapkan generasi?

Sebut saja, waktu kepastian KONGRES HMI yang sudah tenggelam kabarnya, atau sengaja ditenggelamkan?. Oke lah jika alasannya Pandemi, tapi harusnya agenda yang lain seperti koordinasi dan konsolidasi nasional tetap dilakukan, minimal secara virtual. Namun, malah kelihatan yang dibahas secara virtual adalah isu-isu basi dan tak terukur alias tidak penting dan tak relevan, tidak tuntas pula.

Kanda dan yundaku, bila kalian menganggap sebagai contoh buat kami, tolong berikan kami contoh yang baik. Bila mengklaim sebagai figur yang diteladani, maka ajarkan sikap-sikap keteladanan yang patut digugu dan ditiru. Tapi jangan mempertontonkan kebodohan di depan kami junior-juniormu.

Jangan mengajak kami untuk masuk dalam ruang kesesatan yang penuh dusta. Kalau sedang merampok, rampoklah sendiri jangan ajak-ajak kami. Jika sedang memperpanjang konflik antar gerbong jangan libatkan kami, karena rasa-rasanya melelahkan dan menjijikkan hal-hal semacam itu.

Oleh karena itu, PB-HMI hari ini tidak ubahnya seperti seperti realitas Partai Politik dalam panggung politik praktis kini. Mana mau tahu PB-HMI tentang kondisi Cabang dan Komisariat? Yang saat ini sebagian besar terlunta-lunta proses kaderisasinya. PB-HMI tidak pernah memikirkan hal itu! Kasarnya, PB-HMI sama sekali tidak peduli dengan kondisi HMI. Kalau peduli, ia pasti menghidupkan aktifitas organisasi, minimal di internalnya sendiri (PB-HMI).

Berhubung PB-HMI dalam kondisi sakaratul maut, yang artinya mereka tidak bisa diandalkan untuk memimpin dalam rangka memperbaiki Himpunan. Dosa terbesar fungsionaris PB-HMI adalah mereka gagal membangun trust (kepercayaan) terhadap generasi sampai pada tingkat komisariat.

Penyebab dari distrust di akar rumput terhadap fungsionaris PB-HMI adalah karena faktor miskinnya narasi, kekosongan ide dan kebutaan PB-HMI pada kebutuhan organisasi hingga ke level paling mendasar.

Akan tetapi, justru yang dipentaskan oleh fungsionaris PB-HMI adalah sikap-sikap dan langkah-langkah opurtunis yang lebih mementingkan ambisi pribadi juga kubu. Fenomena seperti inilah yang kemudian menimbulkan reaksi kekecewaan dari bawah. Bahwa kebanggaan terhadap fungsionaris PB-HMI telah memudar disebabkan kinerja PB-HMI yang tidak produktif, terutama dalam memberdayakan kegiatan kaderisasi.

Oleh karena itu, secara langsung atau tidak langsung perilaku fungsionaris PB-HMI yang demikian tentu akan melukai nurani kader yang telah berjuang dengan tulus, yang berproses dengan baik, dan bekerja secara ikhlas semata-mata demi kemaslahatan organisasi tercinta, HMI. Sehingga luapan kekecewaan keluarga besar HMI benar adanya ketika PB-HMI gagal mengelola organisasi sebagaimana mestinya.

Pertanyaannya, apabila PB-HMI sudah tidak bisa dipercaya, lalu HMI mau dibawa ke mana? Ini saatnya Pengurus Cabang ditingkat kabupaten/kota berperan dalam menegakkan sekuat-kuatnya kejayaan organisasi. Cabang mestinya mengambil sikap sendiri dalam keadaan pelik saat ini. Tanpa harus bergantung pada keputusan pusat atau PB-HMI yang masih abu-abu, asal selama itu masih dalam koridor yang jelas. Cabang juga jangan sampai terkontaminasi oleh konflik kepentingan para elit di PB-HMI dan tidak terpapar virus pragmatisme. Saatnya cabang tampil dan mengambil sikap yang urgensial!

Akhirnya, saat ini teramat mudah untuk membedakan mana mereka yang susah-payah mengibarkan bendera dan mana mereka yang hanya mengambil keuntungan praktis dari nama besar kita. Selalau mengedepankan arogansi personal, lari dari tanggung jawab, mengabaikan kepentingan umum, dan menyalah gunakan kekuasaan merupakan cara penghianat dan mafia bekerja. Semoga kanda dan yundaku, fungsionaris PB-HMI pandai merasa diri, bukan merasa pandai.

Salam dari kader di akar rumput.

*Penulis adalah Ketua Umum HMI Komisariat Lafran Pane Universitas Mataram, HMI Cabang Mataram.

What do you think?

1 point
Upvote Downvote

Written by historiahmi

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

In Memoriam Bang Abdul Gafur, Angkatan 66 yang Jago Bicara

Malik Fadjar, Sumur Tanpa Dasar Taman Laut Tanpa Tepi