in

Bang Gafur Dalam Kenangan Rangkaian Azas Pancasila

Almarhum Abdul Gafur (Sumber foto : Pikiran Rakyat)

Oleh : Dr.Abidinsyah Siregar

Sungguh, wafatnya Bang Gafur (semoga mendapat tempat di Surga Jannatunna’im) membuat saya kehilangan “kesempatan” selamanya. Saya menyimpan niat bertemu Bang Gafur untuk bertanya dalam kejujuran, apa sebenarnya yang terjadi di era Kabinet Pembangunan-III 1983-1988 sehingga muncul gagasan menjadikan Pancasila yang merupakan Dasar Negara menjadi Azas bagi Organisasi Kemasyarakatan.

Bang Gafur waktunya membuka “kisah sebenarnya” tentang gagasan Azas Pancasila. Karena banyak versi yang terdengar, ada versi tanpa sepengetahuan Pak Harto, bahkan ada versi tentang upaya membenturkan Pemerintah dengan Ummat Islam.

Tulisan ini belum selesai, ketika warga Himpunan mendapat khabar sosok intelektual ulama berpengaruh (Prof.DR) Abdul Malik bin Fadjar Martodihardjo (lahir di Jogyakarta 22 Februari 1939) wafat di Jakarta pada 7 September 2020. Menyukai pemikiran modernis HMI, pernah menjadi Ketua Umum Badko HMI Jawa Timur (1968-1970). Juga dikenal sebagai salah seorang Pemrakarsa berdirinya Korps Alumni HMI (Kahmi) pada Kongres VIII HMI di Solo tahun 1966.

Almarhum Pernah menjadi Rektor UMM (Malang), Dirjen Binbaga Depag RI dan menjadi Pembantu Presiden Megawati Soekarnoputri pada Kabinet Gotong Royong tahun 2001-2004 sebagai Menteri Pendidikan Nasional. Bahkan sempat menjadi Menko Kesra ad-interim ditahun 2004 karena Menko waktu itu, Jusuf Kalla, mencalonkan diri sebagai Wakil Presiden pada Pemilu 2004. Terakhir almarhum adalah Anggota Wantimpres (2015-2019)

Almarhum dengan ilmu dan kearifan, dikiaskan bagai “Sumur tanpa dasar, Taman laut tanpa tepi”. Semoga almarhum kkd A.Malik Fadjar husnul khotimah dan mendapat Surga Jannatunna’iim.

Kakanda Letnan Kolonel TNI-AU (Kes) Purn.Dr.Abdul Gafur wafat pada 4 September 2020. Dokter alumnus FK Universitas Indonesia tahun 1966. Putra kelahiran Halmahera ber-ayah asal Aceh, lahir 20 Juni 1939, sejak kecil sudah diberi ayahnya bacaan buku tentang tokoh dunia dan nasional yang kemudian ia kagumi seperti Thomas Jefferson, Giuseppe Garibaldi, Mahatma Gandhi, Jawaharlal Nehru, Bung Karno, Bung Hatta, Sjahrir, sampai Letnan Kolonel Soeharto.

Bang Gafur besar di Jakarta, menjadi aktivis HMI dan Presidium Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) yang ikut menumbangkan Orde Lama. Ia menggerakkan demo besar-besaran bersama David Napitupulu (Mapancas), Cosmas Batubara (PMKRI), Zamroni (PMII) dan banyak lagi. Gafur pengagum kesederhanaan dan kepemimpinan Pak Harto (beberapa buku karya bang Gafur menulis tentang Pak Harto dan Ibu Tien).

Pernah bertugas sebagai Dokter militer dalam operasi penumpasan PGRS/Paraku yang dicap Komunis di Kalimantan (1968), kemudian menjadi Perwira Kesehatan berpangkat Kapten pada TNI AU (sampai 1971). Lalu berdasarkan Keputusan Presiden RI tahun 1972 menjadi anggota MPR RI mewakili Golongan Karya dalam usia belia 34 tahun. Merintis pembentukan Asian Youth Council di Kuala Lumpur (1972). Aktif di kepemudaan lewat KNPI.

Tahun 1978 Presiden Soeharto mengangkatnya menjadi Menteri Muda Urusan Pemuda pada Kabinet Pembangunan III. Dan kemudian pangkatnya jadi Letnan Kolonel, ketika itu usianya belum 40 tahun.  Dan tahun 1983-1988 Bang Gafur dipercayakan kembali menjadi pembantu Presiden sebagai Menteri mengurusi Pemuda dengan nomenklatur baru Menteri Negara Pemuda dan Olahraga. Menggagasi Hari Olahraga Nasional (diperkuat dengan Keppres No.67 Tahun 1985). Pernah Wakil Ketua MPRRI (1997-1999) dan pernah menjadi Anggota DPA RI.

Kembali kepada “penasaran” saya, mengapa Bang Gafur paling pasang badan dalam urusan ini apalagi kesannya HMI “dipaksa” banget untuk mendeklarasikan penerimaan Azas Pancasila sehingga terkesan jika HMI belum membuat pernyataan menerima Azas seakan “belum selesai ini urusan” (meminjam istilah orang Medan). 

Padahal sebagai alumni HMI seharusnya Bang Gafur tahu di era juniornya Bang (DR.Ir) Akbar Tandjung (Ketua Umum PB HMI ke-12 Periode 1971-1974), nilai-nilai Pancasila sudah tertera dalam Pembukaan Anggaran Dasar HMI hasil Kongres X HMI di Palembang Tahun 1971.

Dan jelasnya hubungan antara “Islam dan Indonesia” sebagaimana dirumuskan oleh (Prof.DR) Nurcholish Madjid (lahir 17 Maret 1939) dkk sebagai Nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI. Cak Nur pernah 2 kali menjabat Ketua Umum ke-11 PB HMI Periode 1966-1969 dan 1969-1971. NDP HMI memastikan tidak ada benturan HMI dengan Pancasila dan KeIndonesiaan, hubungannya begitu indah dan menginspirasi.

Artinya Pancasila bukan ditempatkan di batang tubuh (pasal-pasal) Anggaran Dasar tetapi dalam Pembukaan atau Mukaddimah Anggaran Dasar yang menggambarkan impian dan cita-cita keorganisasian dan harapan para kadernya  untuk membangun Indonesia yang sejahtera melalui pengejawantahan kelima nilai-nilai Pancasila yang diridhoi Allah SWT.

Ketetapan Kongres XV HMI Medan, yang tidak merespons “pesan politik Azas Tunggal Pancasila” yang dibawa Bang Gafur (karena tidak ada legal standingnya) semakin memanaskan iklim politik Nasional. Kongres XV HMI di Medan menjadi episentrum isu nasional hingga berlangsungnya Kongres XVI HMI di Padang tahun 1986.

Uniknya, begitu Presidium Sidang Kongres XVI HMI Padang, mengetuk palu Ketetapan tentang Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga HMI, dimana didalamnya ditetapkan Islam sebagai Sumber Nilai dan Pancasila ditetapkan sebagai Azas Organisasi HMI, serta merta dunia politik nasional menjadi ikut adem.

Seluruh Dokumen dan Argumentasi HMI tentang Azas Pancasila adalah dalam posisi Menetapkan, tidak mengandung narasi Menerima (seakan tidak Pancasilais) apalagi Menolak.

Saat PB HMI, MPK dan Para Ketua Umum Badko HMI se Indonesia sowan kepada Lafran Pane (Pendiri HMI 1947, Lahir di Padang Sidimpuan 5 Februari 1922, Wafat 25 Januari 1991) ke kediaman beliau di Jogyakarta. Selepas mendengar sikap HMI yang disampaikan Bung Harry Azhar Azis (Ketua Umum PB HMI ke-17 Periode 1983-1986) terhadap Azas Pancasila yang diputuskan pada Pleno di Ciloto 1985, dengan lembut dan antusias beliau menyampaikan bahwa HMI didirikan dengan dua tujuan utama.

Pertama, mempertahankan Negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat negara Republik Indonesia. Kedua, menegakkan dan mengembangkan ajaran agama Islam. Dua tujuan tersebut adalah sebuah pengakuan bahwa Islam dan ke Indonesiaan tidak dapat dipisahkan dan tidak berlawanan.

Saat pengukuhan Guru besarnya tahun 1970 di IKIP/UN Yogyakarta, Lafran Pane dalam pidatonya mengatakan bahwa Pancasila merupakan hal yang tidak bisa berubah, harus dipertahankan sebagai Dasar Negara Indonesia.

Komitmen HMI terhadap Pancasila membuatnya menjadi sasaran PKI sepanjang sejarah Indonesia.  Lafran Pane wafat  25 januari 1991.

Dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional pada 10 November 2017 karena  berjasa melahirkan tokoh tokoh besar bagi Negara Indonesia.

Mari kita berdo’a sembari membacakan Suratul Al-fatihah untuk semua para Warga Himpunan sejak tahun 1947 hingga kini, kiranya semua amal ibadah mereka diterima, menerima mereka sebagai syahid, dan menempatkannya di Surga Jannatunna’iim..

Jakarta 8 September 2020

*Penulis adalah Ketua Umum Badko HMI Sumbagut Periode 1983-1986

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Written by historiahmi

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Mengenang Malik Fajar: Sosok Egaliter dengan Semangat Pergerakan yang Terus Menyala

Mas Malik yang Kukenal (Bag.1)