in

Mas Malik Yang Kukenal (Bag.2)

Tampak dalam foto Malik Fajar saat menghadiri acara pernikahan Nurcholish Madjid,atau Cak Nur

Oleh : Imam Suhardjo*

“Apa kabar dik Imam Sudarwo?” sapanya hangat.

“Baik, Mas. Tapi saya Imam Suhardjo. Bukan Imam Sudarwo. Kalau Imam Sudarwo itu Ketua FBSI, Mas,” jawabku agak panjang.

“Iya, ya. Tapi selain Asri Harahap, yang kuingat tentang Jember adalah Zaima Ketum Kohati, dan penghuni rumah di depan Kantor Polisi Jember itu. Di situ kan ada Imam dan ada Sudarwo toh?” kilahnya, menyebut nama Mas Darwo yang lebih dulu beliau kenal.

“Yo, wis. Saiki opo perlumu?” (Ya, sudah. Sekarang apa perlumu?)

Ku ceritakanlah bahwa aku aktif di DPP PPP di bawah kepemimpinan Buya Ismail Hasan Metareum, sebagai Anggota Pusdiklat. Tugasku menyiapkan pelatihan-pelatihan kader partai, sesuatu yang kusukai sejak di HMI.

Dan, menjelang Pemilu 1997, aku didaftarkan sebagai Calon Anggota Legislatif (Caleg) dari Dapil Jawa Timur. Sedangkan aku PNS di Depag, yang sebagaimana PNS lainnya harus ada ijin dari Menteri, sebagai kelengkapan pencalegan.  

“Lha sampean jadi pengurus partai, apa minta ijin?”

“Nggak, Mas! Kalau minta ijin pasti tak kan diijinkan, to?”

Beliau senyum-senyum lalu meminta berkas-berkas yang diperlukan. Sudah kusiapkan, selengkap-lengkapnya.

“Awakmu iku Caleg nomer piro?” (Dirimu itu Caleg nomor berapa?”)

“Nomor 27, Mas!”

“Hah? Kan gak mungkin dapat itu!”

Pemilu masa itu satu provinsi satu dapil. Pada Pemilu sebelumnya (1992) di Dapil Jawa Timur PPP mendapat 11 kursi. Andaikata naik 100% pun baru dapat 22 kursi. Dan itu relatif mustahil. Pantas kalau beliau bilang gak mungkin dapat.

“Maaf Mas. Ini bukan soal dapat atau tidak. Ini soal hak politik saya sebagai  warga Negara.”

“Kalau nomormu memungkinkan untuk dapat, aku akan usahakan supaya dapat ijin. Lha kalau begini sulit aku memerjuangkannya,” jawab beliau.

“Begini, Mas! Menurut saya ada 3 alternatif,” kataku, yang sebelum menghadap beliau sudah kupersiapkan matang-matang argumentasiku.

“Apa itu?” Wajah beliau tampak agak kesal.

“Pertama, saya minta ijin berhenti dengan hormat sebagai PNS. Kalau tak PNS kan saya bebas jadi Caleg.”

“Apa alasanmu minta berhenti dengan hormat?”

“Mau jadi Caleg, Mas”

“Waduh! Enak aja, kamu!”

“Atau alternatif ke dua, Mas!”

“Apa itu?”

“Saya minta pensiun dini!!”

“Tidak gampang itu, dik. Ada syarat-syarat yang cukup berat!”

Wajahnya mulai memerah. Aku pun sudah deg-degan. Jangan-jangan aku dianggapnya mendikte beliau. Mulai kebayang akan gagal menjadi Caleg. Padahal syarat-syarat lain yang cukup rumit seperti Litsus, Surat Keterangan Tidak  Pernah Dipidana dan tetek-bengek lain-lain, harus dilampiri ijin dari Menteri, jika Caleg seorang PNS.

“Kalau nggak mungkin, ya tinggal alternatif terakhir, Mas!”

“Apa itu?!” Untuk ketiga kalinya beliau bertanya dengan kalimat pendek yang sama.

“Beri saya ijin jadi Caleg!”

“Mengko disik. Sing Dirjen iku, aku opo awakmu?” (Ntar dulu. Yang Dirjen itu aku apa kamu?”)

“Mati, aku”, pikirku. Dialog terhenti. Tampak dia sedang berpikir keras. (Saking tegangnya, aku lupa apa beliau merokok atau tidak, waktu itu. Sebab beliau perokok kelas berat).

Tapi itu tak lama. Memang dalam pergaulan sebelumnya di HMI, aku belum pernah lihat beliau marah. Ketika kemudian beliau tersenyum, lega aku. Mendapat ijin atau tidak asal beliau tak marah, senanglah aku. Orang sebaik itu Mas Malik. Di tengah kesibukannya sebagai seorang Direktur Jenderal masih mau meluangkan waktu cukup lama melayani kerewelan yuniornya.

“Tinggal saja berkas-berkasmu ya? Mudah-mudahan ada jalan keluar. Habis, kamu maksa banget, sih,” katanya, mengakhiri percakapan, lagi-lagi  dengan tersenyum. Itulah Mas Malik, masih menyempatkan tersenyum setelah kubikin repot.

*Penulis adalah Mantan Ketua PB HMI, Anggota Lembaga Sensor Film dan Anggota DPR FPPP 1997-1999 & 2004-2009

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Written by historiahmi

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Mas Malik yang Kukenal (Bag.1)

Mas Malik Yang Kukenal (Habis)