in

Kohati, Tunas Muda Pembangkit Optimistis

Habibatur Rohmatil Haq

Oleh : Habibatur Rohmatil Haq

Sejak bulan Desember tahun lalu, virus Covid-19 muncul di Kota  Wuhan, Tiongkok. Kemudian menyebar ke Negara-negara lainnya, hingga WHO memutuskan virus ini sebagai kondisi pandemi. Tak terkecuali wabah ini memasuki Negara Indonesia, dengan terdeteksinya kasus pertama penderita Covid-19 pada bulan awal Maret 2020 di Kota Depok, Jawa Barat.

Semenjak pandemi Covid-19 ini menyebar hampir ke seluruh wilayah Indonesia, banyak hal yang telah merubah berbagai kehidupan masyarakat. Perubahan yang terjadi diantaranya meliputi perubahan kondisi sosial, ekonomi, kesehatan, pendidikan dan kondisi politik masyarakat Indonesia.

Kondisi sosial masyarakat mulai dari rasa panik berlebihan, kejenuhan hingga pada tahap rasa kekhawatiran di masa yang akan datang. Begitu pula dengan kondisi perekonomian masyarakat, terutama kalangan UMKM. Kondisi perekonomian yang berubah-ubah kadang tidak menentu pendapatannya karena kebijakan PSBB dan kebijakan-kebijakan lainnya.

Kondisi kesehatan merupakan yang paling terdampak pada pandemi ini, karena virus Covid-19 yang menyerang saluran pernapasan manusia, sehingga menyebabkan kondisi tidak sehat secara fisik. Tak hanya fisik, namun kondisi yang dianggap sakit oleh masyarakat sudah memasuki pada sakit secara psikis, seperti rasa jenuh, depresi karena perekonomian menurun dan rasa khawatir karena kondisi pandemi yang berakhir dengan tidak pasti.

Kondisi pendidikan di Indonesia juga turut berubah. Pada kondisi pandemi ini, pembelajaran dilaksanakan dengan sistem daring. Pembelajaran jarak jauh yang biasa disebut dengan PJJ kini sudah diterapkan di seluruh wilayah Indonesia.

Dalam kondisi normal , guru dan murid bisa bertatap muka langsung dalam pembelajaran. Namun, pada kondisi pandemi virus covid-19 ini, guru dan murid lebih banyak berinteraksi secara tidak langsung melalui media sosial  seperti melalui gmail, zoom, whatsapp, telegram, youtube, e-learning, dan lainnya dalam melaksanakan proses belajar mengajar.

Selain itu, masih banyak kendala yang dialami oleh beberapa murid di Indonesia terutama di daerah terdepan, terdalam dan tertinggal. Sarana dan prasarana dalam daerah tersebut dibilang kurang memadai untuk melakukan metode pembelajaran daring.

Ditambah masih banyaknya murid yang tidak memiliki paket internet bahkan gadget untuk menunjang media pembelajaran daring tersebut. Tak sedikit murid yang harus bergantian menggunakan gadget dengan anggota keluarganya. Hal tersebut juga sedikit menghambat proses pembelajaran.

Beberapa murid juga ada yang merasa jenuh ingin kembali bertemu teman-teman dan guru di sekolahan seperti biasanya. Sehingga berakibat pada kurangnya efektifitas sosial yang terjadi antara murid dengan guru. Pendidikan hanya sebatas formalitas untuk memenuhi administrasi pendidikan. Namun, kebutuhan pembinaan moral seperti nasihat guru kepada murid, bercerita pengalaman hidup guru kepada murid terjadi tidak seperti pada pembelajaran tatap muka. Padahal nilai-nilai kehidupan yang diberikan dari seorang guru kepada murid cukup penting untuk kelangsungan kehidupan generasi penerus dimasa yang akan datang.

Selain itu, kondisi politik terkait kebijakan lembaga eksekutif dan lembaga legislatif juga berubah. Terlihat dari mekanisme pengambilan keputusan yang tadinya tatap muka, namun saat ini dapat dilakukan secara daring dan menjadi kebiasaan baru dalam pengambilan keputusan di dunia pemerintahan.

Banyak perubahan yang terjadi selama beberapa bulan ini. Masyarakat sudah mulai dihadapkan dengan kondisi kejenuhan akan masa ketidakpastian yang akan datang. Sikap optimis harus terus ditularkan kepada masyarakat untuk bersama-sama berjuang melawan covid-19.

Kohati sebagai pendidik tunas muda sudah seharusnya menyebarkan nilai dan spirit optimis dikalangan masyarakat.  Anggota kohati yang tersebar diseluruh penjuru Indonesia atau bahkan di luar negeri, sudah seharusnya ikut serta dalam membangun sikap optimistis kepada masyarakat sekitarnya di masa pandemi ini.

Membangun sikap optimistis tersebut bisa dimulai dengan menerapkan nilai-nilai perjuangan dengan mengedepankan nilai religiusitas yang telah diajarkan oleh pendahulu kita.

Nilai-nilai religiusitas yang telah ditanamkan Kohati pada para anggotanya, seperti menjalankan peran perempuan dengan idealnya diberbagai posisi kehidupan, misalnya posisi perempuan yang menjalankan tugas sebagai seorang anak,  sudah sewajarnya berbakti kepada orang tuanya.

Anggota kohati sudah sewajarnya memanfaatkan waktu lebih untuk berbakti kepada orang tua dengan selalu ikut serta menjaga diri dan menjaga orang tua agar tidak terpapar covid 19.

Begitu juga perempuan sebagai seorang istri,  yang menjalankan fungsinya dalam mendampingi suami. Sebagai seorang istri, turut serta mengingatkan akan kesehatan dan menguatkan suami dalam mencari nafkah di tengah kondisi perekonomian yang sedang menurun, bukan malah menekan dengan tuntutan ekonomi keluarga.

Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Badan Pengadilan Mahkamah Agung Republik Indonesia, disebutkan bahwa angka perceraian dengan penggugat cerai istri mengalami peningkatan di masa pandemi, tercatat sebanyak lima puluh tujuh ribu kasus pada bulan Juni dan Juli.

Akibat covid-19 banyak juga korban PHK yang membuat ekonomi tidak berjalan baik di dalam keluarga. Dengan begitu, sudah seharusnya anggota KOHATI ikut serta menularkan spirit optimistis kepada perempuan lainnya dalam pemberdayaan diri dan kemandirian ekonomi, sehingga tidak bergantung kepada penafkah utama.

Hal tersebut juga akan mengurangi disorganisasi keluarga yang memberikan efek buruk pada ketidakharmonisan keluarga terutama kepada anak. Perempuan sebagai seorang ibu juga menjalankan perannya untuk memberikan pengayoman pada buah hatinya dengan kelembutan dan kecerdasannya. Seorang ibu diharapkan mampu untuk memberikan fokus terhadap kondisi kesehatan pada keluarga kecilnya. Sehingga  dapat meminimalisir resiko penyebaran virus covid-19 di dalam keluarga.

Para ibu-ibu bisa saling menguatkan antar sesama dalam menjaga disiplin protokol kesehatan di lingkungan sekitarnya.  Begitu pula dengan seorang perempuan sebagai anggota masyarakat, yang  memiliki peran yang sama dengan laki-laki untuk saling mengingatkan dan menguatkan di masa ketidakpastian berakhirnya pandemi ini. Mereka harus selalu memotivasi sesama dalam penerapan kedisiplinan  protokal kesehatan selama melakukan aktivitas sehari-hari. Memberikan motivasi keyakinan, minimal anggota keluarga sehat meskipun masih pada tahap kejenuhan yang belum pasti.

Dengan momen milad KOHATI ke 54 yang bertemakan Ikhtiar Kohati Membentuk Generasi Mandiri, harapannya semoga kader kohati dapat memberikan spirit optimistis kepada seluruh masyarakat Indonesia dan dapat menginisiasi pergerakkan progresif kaum perempuan dalam menekan penyebaran virus covid-19 ini. Yakin Usaha Sampai !!!

Penulis adalah Kader HMI-Wati/ Kohati Cabang Surabaya

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Written by historiahmi

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

MN KAHMI : Usut Tuntas Penyerangan Terhadap Syekh Ali Jaber

Boteng, Sang Pejuang dan Penjaga Silaturahmi