in

Boteng, Sang Pejuang dan Penjaga Silaturahmi

Prosesi Pemakaman Kanda Boteng

Oleh : Kholid Novianto

Pagi ini, dalam suatu pertemuan di daerah Bintaro, saya mendengar kabar, Boteng meninggal. Saya berusaha tidak kaget, tapi tetap saja kaget.

Saya tahu, Boteng sudah cukup lama berjuang dengan penyakitnya: gagal ginjal. Setiap Minggu sekali harus cuci darah. Dan tiap cuci darah, makan waktu sekitar 4-5 jam. Jadwalnya tidak boleh telat, kapanpun dan di manapun.

Kini, Boteng, sudah tuntas dengan perjuanganya. Yang tersisa sekarang tinggal kenangan. Disitulah saya terkaget. Tak terbayangkan secepat ini, almarhum meninggalkan kita.

Yang bisa saya lakukan sekarang hanya merekonstruksi pengalaman-pengalaman bersama Boteng. Saya sudah tidak bisa lagi bercanda dan merancang gerakan idealisme. Sesuatu yang membuat ghiroh saya dan Boteng selalu bergejolak, bikin hidup makin hidup.

Saya mengenal Boteng, sebelum masa reformasi 98. Saat itu, Boteng masih menjadi mahasiswa Gunadarma dan aktif di HMI. Profilnya memang unik. Boteng adalah produk LK cabang Jakarta, namun sepenuhnya mengabdi pada HMI cabang Depok.

Saat itu saya sudah sering diskusi panjang bersama Boteng. Entah itu, di warung kopi, kos-kosan, atau pada saat sebelum ngasih materi LK. Semangatnya memperjuangkan HMI Depok yangg masih bayi dan sudah ditempa banyak masalah, tidak terkira.

Saya yangg awalnya agak malas, menjadi terpicu semangat setelah ngobrol panjang bersama Boteng dan teman-teman lainnya. Saat itu yang diperjuangkan adalah bagaimana mewujudkan HMI Cabang Depok. Semangatnya cuman satu, menjadikan HMI Cab Depok solid dan tidak terpecah-pecah lagi.

Boteng termasuk pintar merajut silaturahmi dengan alumni-alumni Cabang Depok. Satu persatu ditemui dan melahirkan pertemuan pertemuan yang menyolidkan dukungan buat Cab Depok. Usahanya cukup berhasil.

Paling tidak, sejak Boteng menjadi Sekum dan Cecep Rukendi menjadi Ketum, kondisi cabang Depok benar-benar solid. Dukungan alumni terus mengalir dan kaderisasi lancar yang dibuktikan tidak ada lagi perpecahan Cab Depok. Saya rasa itulah jasa yang bisa saya kenang dari Boteng terkait cabang Depok.

Persahabatan saya dengan Boteng terus berlanjut. Suatu masa, Boteng mengajak saya dan Sang Alias (yang tidak bisa disebutkan namanya) untuk mendukung calon walikota Depok yang menurut diskusi kami, cukup punya wawasan memajukan Depok.

Pertemuan segera dirancang. Kami kemudian terlibat aktif diskusi berminggu-minggu bersama bakal calon. Proyeksi Boteng benar, bakal calon ini punya wawasan luas dan punya basis, sehingga layak diperjuangkan.

Kami akhirnya tidak saja diskusi soal gagasan, melainkan mulai melangkah lebih jauh, membuat pemetaan politik agar sang bakal calon bisa menang. Sayangnya, perjuangan mentok. Gagal menjadi calon. Sehingga, calon kami, tidak pernah berlaga dalam Pilkada.

Meski tersisih, pengalaman diskusi panjang itu menghasilkan buah yang tak terkira. Saya dan Sang Alias mulai piawai melakukan pemetaan politik. Buah yang terus terang kami nikmati sampai sekarang. Dan itu, bagaimana pun jasa Boteng.

Boteng memang tak sepi dari perjuangan gagasan. Saat itu yang disodorkan pada kami adalah rencana pembentukan KAHMI Depok. Lagi-lagi saya terprovokasi. Saya kembali bergairah, menghubungi satu persatu alumni Cab Depok guna menyolidkan dukungan buat pembentukan KAHMI Depok.

Kali ini, kami berhasil menyolidkan dukungan alumni cabang Depok guna pembentukan KAHMI Depok. Konferensi KAHMI Depok berhasil dilakukan. Lahir ketua baru. Sayangnya sang ketua baru, kurang memperhatikan aspirasi kami-kami alumni cab Depok. Jelas kami kecewa.

Namun, saya dan Boteng tetap tertawa dan bercanda sambil dengan cepat melupakannya. Anggap saja ini pemanasan. Bukan tujuan utama. Sejak itu, saya malas aktif di KAHMI Cabang Depok.

Saya dan Boteng selanjutnya masuk gelanggang politik nasional. Saya masuk Golkar dan Boteng masuk Gerindra. Sejak saat itu, saya dan Boteng sudah jarang terlibat dalam proyek bersama.

Meskipun demikian, dalam beberapa kesempatan, kami tetap bertemu. Entah itu di rumah saya atau tempat tempat nongkrong yang biasa kami lakukan. Obrolan masih berlangsung seru. Gaya khasnya tidak pernah hilang, selalu optimis.

Saya bertemu kembali dengan Boteng di kafe Kimung GDC bersama dengan Rudi, Rifki, Deni, Abdi dan sang Alias. Pertemuan itu sebenarnya menghasilkan gagasan yang menarik, yaitu keinginan mendirikan masjid yang menyatu dengan sekretariat HMI. Namanya sudah dicetuskan: Masjid Mahali.

Sayangnya, gagasan ini susah sekali dieksekusi. Pada saat pertemuan itu, Boteng sudah menginformasikan kalau dirinya sedang sakit.

Selanjutnya, sekitar tahun lalu saya bertemu kembali dengan Boteng di GDC. Boteng menginformasikan kalau dia harus cuci darah setiap Minggu. Boteng bilang, sudah tidak kuat lagi kalau ke Senayan. Sebab itu, dia menolak menjadi TA. Aktivitasnya berubah menjadi bisnis alkes.

Yang mengejutkan, dia bercerita, rezekinya malah meningkat dari bisnis alkes. Padahal effortnya gak banyak dibandingkan masih aktif di dunia politik. Saya bilang, itulah keadilan Tuhan. Sayangnya, buah kerja kerasnya tidak sempat dinikmati. Boteng saat itu sudah harus berjuang terus menerus di tepi garis kematian. Termasuk ketika di rawat di RS Fatmawati.

Dalam obrolan terakhir itu, Boteng mengutarakan niatnya hendak pergi Umroh, apapun yang terjadi. Semangatnya tetap seperti dulu, sangat optimis walau kondisi obyektifnya sudah memburuk. Boteng berdalih, mengenal beberapa beberapa orang yang kondisinya sama namun bisa menjalankan ibadah umroh.

Boteng meminta nasehat saya bagaimana harus mempersiapkan rohani untuk bisa umroh. Saya tentu saja hanya memberikan saran umum saja, sambil berjanji, nanti kalau sudah dekat waktunya, akan saya beri tutorial.

Saya tidak sempat memberikan tutorial, keburu mendengar berita duka itu. Secepatnya saya melaju pulang, dan menuju rumah Boteng.

Jam sebelas siang, saya sampai rumah almarhum. Ipik, alumni cab Lampung, yang sudah berada di rumah duka mengabarkan kalau almarhum sudah dimakamkan. Saya kaget dan saya sedih.

Saya sedih karena tidak sempat turut menyolatkan almarhum. Saya sedih tidak bisa membalas kebaikan Boteng walau hanya dengan menyolatkan. Akhirnya saya hanya bisa bedoa, semoga almarhum diampuni segala dosa dan kesalahannya dan diterima seluruh amal ibadahnya.

Saya bersaksi, almarhum Boteng adalah orang baik, menjaga perkawanan dengan penuh kesejatian (*).

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Written by historiahmi

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Kohati, Tunas Muda Pembangkit Optimistis

1963-1966 : Tahun-tahun Tantangan Bagi HMI Menghadapi PKI (Bag.1)