in

LoveLove

1963-1966 : Tahun-tahun Tantangan Bagi HMI Menghadapi PKI (Bag.2)

Oleh : Nazar Nasution*

Central Gerakan Mahasiswa Indonesia

Peristiwa pelarangan HMI oleh Prof. Utrecht ini kemudian dijadikan sebagai “bola liar” oleh CGMI (Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia/organisasi mahasiswa bentukan PKI) untuk membubarkan HMI. CGMI membuat front bersama membubarkan HMI bersama GMNI Asu (berasal dari PNI Asu Ali Sastroamijoyo-Surachman), Germindo(organisasi mahasiswa dari Partindo atau Partai Indonesia) serta Perhimi (organisasi mahasiswa dari BAPERKI atau perkumpulan Orang-orang Tionghoa}. Keempat organisasi mahasiswa yang beraliran Kiri inilah yang dengan gigih melancarkan kampanye untuk membubarkan HMI.

Opini Publik

Untuk memenangkan opini publik, CGMI cs berusaha membubarkan HMI dengan melakukan serangkaian tindakan, antara lain mencorat-coret tembok gedung di kota-kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Yogya, Surabaya, Medan, Makasar dengan tulisan “Bubarkan HMI”. Ulah anggota CGMI yang dilaksanakan pada tengah malam tersebut diwaspadai oleh aktivis-aktivis HMI di tempat-tempat tersebut. Aktivis dan kader HMI melakukan operasi menjelang fajar dengan mengganti dua huruf “Bu” menjadi “Ko” . Sehingga “Bubarkan HMI” berubah dan menjelma menjadi “Kobarkan HMI”.

Betapa kaget dan kecewanya CGMI, ketika menyaksikan keesokan harinya, seluruh kota dipenuhi dengan tulisan “Kobarkan HMI”. Dengan demikian, harapan CGMI agar terjadi stigma negatif terhadap HMI malah berubah menjadi citra positif bagi HMI.

Generasi Muda Islam

Generasi Muda Islam (Gemuis), yang dipelopori oleh GP Ansor (Jusuf Hasyim), PII dan lain-lain menyatakan prihatin dan solidaritas terhadap situasi yang dihadapi oleh HMI. Mereka serentak melakukan pawai keliling kota, baik di Jakarta maupun kota-kota besar lainnya dengan membawa spanduk bertuliskan “Langkahi mayatku sebelum membubarkan HMI”. Tulisan yang membuat orang merinding dan membangkitkan solidaritas ini ternyata membuat PKI tersentak dan menyadari bahwa HMI, sebagai kader umat dan bangsa, adalah kelompok yang mendapat dukungan penuh umat Islam dan bangsa Indonesia.

Posisi Para Pejabat

Di lingkungan pejabat pemerintahan Sukarno, saat itu ada juga yang ikut merestui pembubaran HMI, misalnya Prof Priyono, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1964. Menghadapi tindak tanduk Prof. Priyono ini, maka HMI menggerakkan demonstrasi dengan tema”Retool” Prof.Priyono. Demonstran dipimpin oleh Ekkie Syahruddin, aktivis/Ketua HMI Cabang Jakarta. Kala itu, aktivis/kader HMI mendatangi Departemen PDK di Jalan Cilacap, Menteng.

Sebaliknya, sejumlah Menteri lainnya umumnya membela HMI, seperti Menteri Agama KH Syaifuddin Zuhri. Awal 1965, terjadi dialog antara Presiden Sukarno dengan Syaifuddin Zuhri. Sukarno menyampaikan niatnya kepada Zuhri untuk membubarkan HMI.

 “Mengapa HMI dibubarkan ?” tanya Zuhri. Bung Karno menjawab, “Saya menerima berbagai laporan bahwa HMI melakukan tindakan antirevolusi dan bersikap reaksioner”.

Zuhri menjawab “Bukan membela HMI, Pak. Saya tidak ingin Presiden berbuat berlebihan. Kalau Bapak tetap hendak membubarkan HMI, maka tugas saya sebagai pembantu Bapak hanya sampai di sini!” Bung Karno kaget dengan reaksi Zuhri tersebut dan menjawab: “Saya tetap memerlukan Saudara membantu saya, Baiklah, HMI tidak saya bubarkan. Tetapi saya minta jaminan HMI akan menjadi organisasi yang progresif, Saya minta anda (Syaifuddin Zuhri), bersama Nasution, Ruslan Abdulgani dan Syarif Thayeb untuk membimbing HMI”.

Sementara itu, Jenderal Ahmad Yani, salah seorang petinggi AD, menyampaikan kepada PB HMI “Kalau hari ini HMI dan Soksi diganyang oleh PKI, maka tidak mustahil besok atau lusa PKI akan merongrong AD”. Hal ini diikuti oleh Pimpinan AD lainnya, Brigjen Soetjipto yang menyatakan “Go ahead HMI”. (Sumber: Sulastomo, Hari-hari Yang Panjang 1963-1966).

Dalam Buku “HMI 1963-1966”(penerbit Kompas),yang ditulis oleh pelaku-pelaku sejarah, yaitu 7 orang pimpinan HMI yang berperan saat itu . Mereka di antaranya ialah Sulastomo, Mar’ie Muhammad, Yusuf Syakir, Sularso, Solichin, Nazar Nasution,Harun Kamil. Oleh Alfan Alfian, peristiwa politik atas aksi pengganyangan HMI ini diungkapkan secara kronologis rentetan peristiwa-peristiwa yang berlangsung antara tahun 1963-1966.

Perserikatan Perhimpunan Mahasiswa Indonesia

Melalui PPMI (PerserikatanPerhimpunan Mahasiswa Indonesia), CGMI-GMNI ASu-Germindo dan Perhimi secara terus-menerus melakukan kampanye untuk mengganyang HMI dan menuntut agar PPMI mengeluarkan HMI dari PPMI. Pada Oktober 1964, PPMI Pusat memutuskan untuk menskors HMI dari keanggotaan PPMI. Meskipun keputusan ini diprotes oleh PMII dan PMKRI.

Saya sempat mendampingi Sekjen PB HMI saat itu, Mar’ie Muhammad, yang ditugaskan oleh PB HMI untuk melakukan berbagai lobbi di lingkungan PPMI untuk membela kepentingan HMI.

Majelis Mahasiswa Indonesia

CGMI juga berusaha untuk menghilangkan pengaruh dan peranan HMI di lingkungan MMI(Majelis Mahasiswa Indonesia), badan kemahasiswaan intra universiter, dengan tujuan menggagalkan usaha HMI menduduki jabatan sebagai Ketua Senat maupun Ketua Dewan Mahasiswa di berbagai kampus universitas terkenal, seperti ITB,UI, Unpad,IPB,UGM, USU, Unhas dll. Termasuk memanfaatkan forum-forum MMI seperti Pertemuan Nasional MMI di Malino (1964) untuk melarang, bahkan untuk membubarkan HMI.

Usaha ini telah dihadapi dengan gigih oleh aktivis-aktivisHMI di berbagai kampus di seluruh Indonesia, antara lain ditunjukkan oleh Bakir Hasan (Ketua DM UI) dan lain-lain.

**Penulis adalah aktivis, Diplomat dan Dosen

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Written by historiahmi

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Memaknai Undangan Amerika Serikat Untuk Prabowo

Diduga Melanggar HAM, Rektor Unmer Malang Disurati HMI Korkom Unmer