in

1963-1966 : Tahun-tahun Tantangan Bagi HMI Menghadapi PKI (Habis)

Oleh : Dr. Nazar Nasution, S.H., MA*

Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia

Tanggal 25 Oktober 1965, atas prakarsa Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan Syarif Thayeb, didirikan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) yang beranggotakan antara lain HMI, PMKRI, GMNI, GMKI, PMII, IMM, SEMMI, Mapantjas, Pelmasi, SOMAL (Imada, GMD, MMB, IMABA, PMB).

Pimpinan KAMI di tingkat Pusat berbentuk Presidium. Ketua-ketua Presidium antara lain adalah Cosmas Batubara (PMKRI), Zamroni (PMII), David Napitupulu (Mapantjas), Elyas (SOMAL). Biro Politik dijabat oleh Mar’ie Muhammad (HMI), demikian pula Sekjen KAMI Pusat Nazar Nasution (HMI).

Pada 29 Desember 1965, menyadari kenyataan bahwa KAMI adalah satu-satunya wadah mahasiswa yang representatif, maka semua organisasi mahasiswa anggota KAMI, menyepakati pembubaran PPMI dalam suatu Kongres Luar Biasa PPMI. Salah satu prestasi KAMI di tingkat nasional adalah mencetuskan TRITURA (Tri Tuntutan Rakyat) dalam Aksi Massa tanggal 10 Januari 1966.

Adapun isi Tritura adalah: Bubarkan PKI, Rombak Kabinet serta Turunkan Harga. Isi Tritura dirumuskan oleh suatu Tim KAMI Pusat, yang terdiri dari Nazar Nasution (HMI), Ismid Hadad (IPMI), Savrinus Suardi (PMKRI).

Peristiwa G30S/PKI

Pada 30 September 1965 malam hari, kebetulan kami berempat: (Mar’ie Muhammad, Nazar Nasution, Ridwan Saidi dan Harun Kamil) berdiskusi hingga larut malam dan keesokan paginya naik becak ke kantor PB HMI Jalan Diponegoro 16. Setiba di PB HMI, kami mendengar pengumuman lewat radio bahwa telah terbentuk Dewan Revolusi  yang dipimpin Kolonel Untung.

Karena belum jelas siapa Kolonel Untung, Dewan Revolusi dsb nya itu, kami menuju Jalan Sumatra, kediaman Penasehat PB HMI Dahlan Ranuwihardjo. Beliau meminta kami dan aktivis lainnya untuk keliling kota Jakarta memantau situasi di lapangan.

Sore hari diketahui bahwa Dewan Revolusi adalah bentukan PKI untuk merebut kekuasaan melalui kekuatan “Angkatan ke-5” (buruh-tani-nelayan-pemuda). PB HMI memutuskan untuk melakukan pendekatan dan lobi ke beberapa tokoh, antara lain Subchan ZE (PB NU) dan Harry Tjan Silalahi (Partai Katolik). Tokoh-tokoh tersebut menyepakati untuk membentuk Kesatuan Aksi Pengganyangan G-30-S (KAP Gestapu), dipimpin oleh Harry Tjan dan Subchan ZE.

Wadah ini kemudian menjelma menjadi Front Pancasila. Unjuk kekuatan pertama oleh KAP Gestapu dilakukan pada tanggal 3 Oktober 1965 di Taman Sunda Kelapa. Bendera pendukung KAP Gestapu dan spanduk-spanduk anti komunis berkibar di lapangan tersebut, Peristiwa inilah yang mempelopori berbagai demonstrasi dan aksi untuk mengganyang dan membubarkan PKI, melibatkan sejumlah aktivis HMI (antara lain Ekki Syahruddin, Firdaus Wadjdi, Fahmi Idris, Farid Laksamana).

Pahlawan Ampera

Menghadapi aksi-aksi KAP Gestapu dan KAMI ini, Presiden Sukarno bereaksi cukup keras. Diperintahkan Tjakrabirawa untuk menghadapi aksi-aksi ini dengan kalau perlu menembaki para mahasiswa yang melakukan demonstrasi. Sejumlah mahasiswa tewas, antara lain Arif Rachman Hakim di Jakarta, Aries Margono di Yogya, Hasanuddin Noor di Banjarmasin.

KAMI menetapkan mahasiswa yang gugur tersebut sebagai Pahlawan Ampera. Untuk mengantisipasi reaksi para mahasiswa dengan gugurnya para Pahlawan Ampera tersebut, pihak aparat Keamanan berusaha menangkapi tokoh-tokoh KAMI. Bahkan KAMI juga dibubarkan dengan keputusan KOGAM (Komando Ganyang Malaysia).

Situasi yang unik dan mencekam tersebut dihadapi oleh KAMI dengan tetap melanjutkan perjuangan melalui wadah Laskar Ampera Arief Rachman Hakim di bawah pimpinan Fahmi Idris. Aparat keamanan diperintahkan untuk melakukan berbagai penangkapan. Hakim Sorimuda dan saya sempat dicari-cari oleh aparat keamanan. Kami pindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain untuk menghindari penangkapan.

Sebagai Sekjen KAMI Pusat, saya termasuk daftar yang akan ditangkap. Pasukan Skogar mendatangi kantor PB HMI di Jalan Diponegoro. Pintu diketuk, kebetulan pintu saya sendiri yang membuka, Petugas bertanya : “Ada yang bernama Nanar Nasution di sini ?”. Saya terdiam. Ketika ditanya ke dua kali, saya menjawab tenang: “Tidak ada Nanar Nasution di sini”.

Sambil bersuara keras, petugas bertanya lagi ”Nanar Nasution ada apa tidak di sini ?” Saya menjawab tegas “Tidak ada. Nanar Nasution tidak ada”. Akhirnya petugas meninggalkan tempat, Saya (Nazar Nasution) terhindar dari penangkapan. Beberapa jam sebelumnya, Cosmas Batubara dan Zamroni sudah kena “ciduk”. Karena salah ketik dalam daftar, saya terhindar dari penangkapan. Alhamdulillah. Tetapi saya tidak berdusta (Sumber: Harian KAMI).

Pembubaran PKI

Puncak gerakan dari Front Pancasila, KAMI dan Kesatuan-Kesatuan Aksi lain pada akhirnya berhasil dengan dibubarkannya Partai Komunis Indonesia tanggal 12 Maret 1966. Dengan tekad perjuangan untuk menegakkan Keadilan dan Kebenaran, maka HMI yang semula menjadi target pembubaran oleh PKI, ternyata setelah pertarungan selama 3 tahun, akhirnya PKI lah yang dibubarkan. Ini merupakan perjuangan yang gigih, bukan hanya oleh para aktivis HMI, tetapi dukungan segenap lapisan masyarakat, baik pemuda, intelektual dan rakyat Indonesia secara keseluruhan.

Killing Fields

Apa yang akan terjadi di Indonesia, apabila PKI berhasil melakukan kudeta tanggal 30 September 1965? Dari kesaksian para aktivis HMI yang melakukan penggeledahan di sejumlah kantor ataupun rumah tokoh-tokoh PKI di seluruh Indonesia, ditemukan dokumen-dokumen yang antara lain memuat daftar nama orang-orang anti komunis yang akan menjadi target PKI untuk dibinasakan. Pastilah nasibnya sama dengan ke-7 perwira tinggi AD yang dibunuh dengan kejam dan dimasukkan ke Lubang Buaya.

Di Kamboja, (kebetulan saya pernah bertugas di negara tersebut), saya mengamati 3 hal yang diterapkan oleh rezim Komunis. Pertama, mengobarkan pertentangan kelas(class struggle); kedua, tujuan menghalalkan cara (the ends justified the means); ketiga, semuanya adalah milik negara, tidak dikenal milik perorangan. Negara Komunis ini meninggalkan sejarah kelam, yaitu “Killing Fields”(ladang pembantaian), yang menggambarkan kekejaman rezim Komunis rezim Pol Pot, yang berkuasa melalui suatu kudeta. Kalau kita punya “Lubang Buaya”dengan korban 7 orang Pahlawan Revolusi, rezim Pol Pot (yang berkuasa dari tahun 1975-1979), menunjukkan kekejamannya dengan korban jiwa hampir 2 juta orang (sepertiga dari penduduk Kamboja yang saat itu berjumlah 6 juta jiwa). Syukur Alhamdulilah, malapetaka itu tidak terjadi di Indonesia (*).

*Penulis adalah aktivis, Diplomat dan Dosen.

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Written by historiahmi

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Diduga Melanggar HAM, Rektor Unmer Malang Disurati HMI Korkom Unmer

Kenapa Istana Di Demo?, Bukankah Kau dan Aku